Bantarkawung Festival 2026 Sukses Digelar, Warga Berharap Jadi Agenda Rutin

waktu baca 3 menit
Minggu, 25 Okt 2026 18:08 169 Redaksi Jateng

Postkotaonline, Brebes – Bantarkawung Festival 2026 berakhir dengan harapan agar kegiatan serupa tidak berhenti sebagai perhelatan sesaat. Warga menginginkan festival yang memadukan pentas seni, promosi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), layanan pencarian kerja, serta kegiatan sosial itu digelar secara berkala.

Festival berlangsung di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Oktober 2026. Selain menampilkan seni dan budaya, acara tersebut menghadirkan job fair, layanan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), stan UMKM, bioskop keliling, donor darah, dan santunan bagi 50 anak yatim melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Brebes.

Fikri, salah seorang warga Bantarkawung, mengatakan festival menyediakan beragam kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat dalam satu tempat. Warga tidak hanya bisa menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga mengunjungi stan produk lokal dan memperoleh informasi mengenai peluang kerja.

Ia juga mengapresiasi santunan bagi 50 anak yatim. Menurut Fikri, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa festival tidak semata-mata berorientasi pada hiburan, tetapi juga memuat unsur kepedulian sosial.

Harapan agar festival menjadi agenda rutin muncul seiring beragamnya kegiatan yang ditawarkan. Penyelenggaraan secara berkala dinilai dapat memberi kesempatan lebih luas kepada seniman lokal untuk tampil dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, Fajar Adi Widiarso, juga mendorong agar kegiatan seni, budaya, dan promosi UMKM di Bantarkawung diselenggarakan secara rutin. Bahkan, ia mengusulkan kegiatan semacam itu dapat berlangsung setiap tiga bulan.

Fajar hadir mewakili Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma yang berhalangan hadir karena acara keluarga. Dalam sambutannya, ia menyampaikan salam dari bupati sekaligus mengapresiasi festival yang digagas tokoh pemuda setempat, Andrian Igong.

Menurut Fajar, kegiatan budaya dapat membuka ruang bagi seniman untuk menampilkan karya sekaligus membantu pelaku UMKM menjangkau calon pembeli. Aktivitas pengunjung selama festival juga berpotensi menggerakkan perdagangan di sekitar lokasi acara.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan secara rutin. Dengan begitu, pelaku seni memiliki kesempatan untuk terus tampil, sedangkan UMKM dapat mempromosikan produk mereka kepada masyarakat,” ujar Fajar.

Bantarkawung Festival 2026 mengusung tema “Penguatan Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Ketahanan Sosial Budaya melalui Pelestarian Budaya Lokal dan Pemberdayaan Kreativitas Pemuda di Kabupaten Brebes Tahun 2026”.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Brebes, Cecep Aji Suganda, mengatakan festival dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus memperkuat gotong royong dan kebanggaan terhadap budaya lokal.

“Festival ini bukan sekadar kegiatan hiburan, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat, memperkuat gotong royong, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Ketika masyarakat berkumpul dalam suasana positif, persatuan dan kesatuan akan semakin kuat,” ujar Cecep.

Ia menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal. Pemuda, menurut dia, perlu memperoleh kesempatan untuk berkreasi dan berinovasi, termasuk melalui kegiatan seni, komunitas, dan pemberdayaan ekonomi.

Cecep juga mengapresiasi keterlibatan seniman, pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat dalam festival tersebut. Kolaborasi berbagai unsur itu dinilai dapat mendukung pelestarian budaya sekaligus pembangunan daerah.

Di sisi ekonomi, festival menyediakan layanan pembuatan NIB bagi pelaku usaha dan informasi lowongan kerja bagi pencari kerja. Namun, manfaat kedua layanan tersebut perlu dilihat dari tindak lanjut setelah acara, termasuk akses terhadap kesempatan kerja dan bertambahnya pelaku usaha yang memiliki legalitas.

Begitu pula dengan promosi UMKM. Kehadiran stan selama festival dapat memperkenalkan produk kepada pengunjung, tetapi keberlanjutan pemasaran dan transaksi setelah acara menjadi bagian penting untuk menilai dampaknya bagi usaha lokal.

Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut menghadiri festival tersebut, antara lain Fajar Adi Widiarso, Sekretaris Camat Bantarkawung, Sekretaris Camat Salem, serta Andrian Igong selaku penggagas acara.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA